Kamis, 27 Oktober 2016
Kisah Cinta Ali Bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra yang Melelehkan Hati
Inilah kisah cinta suci antara Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra. Cinta mereka memang luar biasa indah, cinta yang selalu terjaga kerahasiaannya dalam sikap, kata, maupun ekspresi. Hingga akhirnya Allah menyatukan mereka dalam sebuah ikatan suci pernikahan.
Ali sudah menyukai Fatimah sejak lama, selain kecantikan fisik, Ali jatuh hati pada kecantikan ruhaniah Fatimah yang melintasi batas hingga langit ke tujuh. Kendalanya adalah perasaan rendah hati; mampukah Beliau membahagiakan Fatimah dengan keadaannya yang serba terbatas.
Dikisahkan, kala Ali Bin Abi Thalib ingin melamar putri tercinta Rasulullah Muhammad SAW, beliau tak punya uang untuk membeli mahar. Maka Ia membatalkan niat itu. Ali segera berhijrah untuk bekerja dan mengumpulkan uang.
Sementara itu, Ali juga sempat patah hati tiga kali, ketika dua sahabat Rasulullah, Abu Bakar dan Umar bin Khattab, mendahuluinya melamar Fatimah, menyusul Abdurahman bin Auf melamar sang putri dengan membawa 100 unta bermata biru dari mesir dan 10.000 dinnar (jika diuangkan dalam rupiah kira-kira 55 milyar).
Tidak dinyana tidak diduga, ternyata Rasulullah menolak lamaran mereka bertiga. Bahkan dalam sebuah riwayat (Abas Azizi hal 162) diceritakan: Nabi saw menggenggam batu kerikil dan kemudian membukanya, terlihat batu itu menjadi batu mulia dan beliau menunjukkannya sambil berkata, “Apakah engkau hendak menakut nakutiku dengan hartamu?”
Tiga sahabat sudah memberanikan diri dan mereka telah di tolak oleh Rasulullah SAW. Kini, giliran Ali bin Abi Thalib untuk memberanikan diri.
Hingga suatu hari beliau memberanikan diri datang. Awalnya beliau hanya duduk di samping Rasulullah. Beliau lama tertunduk diam. Hingga Rasulullah pun bertanya, ”Wahai putra Abu Thalib, apa yang engkau inginkan?”
Sejenak Ali terdiam, dan dengan suara bergetar ia pun menjawab, ”Ya Rasulullah, aku hendak meminang Fatimah.”
Mendengar jawaban Ali ini, Rasulullah SAW menjawab, “Bagus, wahai Ibnu Abi Thalib. Beberapa waktu terakhir ini banyak yang melamar putriku, tetapi Ia (Fatimah) selalu menolaknya, oleh karena itu, tunggulah jawaban putriku.”
Rasulullah SAW kemudian meninggalkan Ali dan bertanya kepada putrinya. Ketika ditanya Fatimah hanya terdiam. Rasulullah SAW menyimpulkan bahwa diamnya Fatimah pertanda persetujuannya.
Rasulullah kemudian mendekati Ali dan berkata, “Apakah engkau memiliki sesuatu yang akan engkau jadikan mahar wahai Ali?”
Ali pun menjawab, ”orang tuaku yang menjadi penebusnya untukmu ya Rasulullah, tak ada yang aku sembunyikan darimu, aku hanya memiliki seekor unta untuk membantuku menyiram tanaman, sebuah pedang, dan sebuah baju zirah dari besi.”
Dengan tersenyum Rosululloh saw bersabda, “Wahai Ali, tidak mungkin engkau terpisah dengan pedangmu, karena dengannya engkau membela diri dari musuh-musuh Allah SWY ,dan tidak mungkin juga engkau berpisah dengan untamu karena ia engkau butuhkan untuk membantumu mengairi tanamanmu. Aku terima mahar baju besimu, juallah dan jadikan sebagai mahar untuk putriku.”
Ali bin Abi Thalib menjual baju besi tersebut dengan harga 500 dirham dan menyerahkan uang tersebut kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW lalu membagi uang tersebut ke dalam 3 bagian; satu bagian untk kebutuhan rumah tangga, satu bagian untuk wewangian, dan satu bagian lagi dikembalikan kepada Ali bin Abi Thalib sebagai biaya jamuan makan untuk para tamu.
Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. Ali adalah gentleman sejati. “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang.
Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti Ali. Cinta mempersilakan, atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.
Dalam suatu riwayat dikisahkan, suatu hari setelah keduanya menikah, Fatimah berkata kepada Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta kepada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya.”
Ali pun bertanya mengapa ia tak mau menikah dengannya (pemuda itu), dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya (Ali bin Abi Thalib).
Sambil tersenyum Fatimah menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu.”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar